Higashimatsushima (East Matsushima : “Matsushima” berarti “Pohon Pinus”) adalah kota yang berlokasi di Prefektur Miyagi, Jepang. Kota ini dibentuk pada tanggal 1 April 2005, yang menyatukan dua kota Naruse dan Yamoto. Kota ini memiliki populasi 43.142 jiwa dengan kepadatan 420 penduduk per km² dan luas area 101,86 km².

Kota yang berlokasi diantara Sendai dan Ishinomaki ini memiliki industri utama di bidang pembuatan bejana (laver), aquaculture (tiram/ kerang) dan agriculture (pertanian).

Kota ini merupakan salah satu kota yang terkena dampak pasca gempa dan tsunami yang melanda Jepang pada11 maret 2011 yang menghantam hampir seluruh daerah Tohoku (utara Jepang). Kota yang menghadap langsung ke samudera pasifik ini mengalami kerusakan yang cukup parah, korban jiwa sebanyak 1.093 orang, 5.499 rumah rusak parah, 11.000 kendaraan hanyut terbawa arus dan berbagai fasilitas publik juga rusak. . 65 % dari kota ini terkena dampak tsunami dan sampai saat ini belum pulih sepenuhnya.

Kota Higashimatsushima sadar bahwa mereka berada di daerah yang rawan bencana, oleh sebab itu mereka sudah mempunyai standar keselamatan yang cukup tinggi. Namun apa yang terjadi pada 11 maret 2011 yang lalu merupakan hal yang diluar kekuasaan mereka.

Di kota ini gempa sangat sering terjadi, dalam satu bulan bisa lebih dari 4 kali. Saat pertama sekali tiba dsini, saya sempat khawatir dan was-was, namun lama kelamaan menjadi terbiasa.

Perumahan sementara di kota Higashimatsushima (Foto 24 maret 2013)

Perumahan sementara di kota Higashimatsushima (Foto 24 maret 2013)

Manajemen Kebencanaan

Ada beberapa hal yang menarik terkait manajemen bencana di kota ini, yang pertama tentu saja faktor pendidikan. Mereka sudah mengajarkan kesadaran tentang bahaya gempa dan cara penanganan/menghadapinya sejak dini, murid-murid disekolah mendapatkan materi khusus terkait masalah ini. Selain itu juga pelatihan/ drill dilaksanakan secara reguler, baik di tingkat sekolah maupun di tingkat komunitas masyarakat.

Kedua, mereka memiliki prosedure SOP (Standar Operasional Prosedur) yang jelas, misalnya untuk program menjaga sesama (caring each other): disetiap komunitas masyarakat diwajibkan mengisi daftar orang yang harus dihubungi secara berantai, sehingga jika terjadi bencana masyarakat akan menghubungi teman atau keluarganya secara berantai . Kemudian jalur evakuasi yang jelas, jika terjadi bencana masyarakat akan langsung berkumpul pada tempat evakuasi yang ditentukan. Di Jepang pada umumnya menggunakan bangunan sekolah sebagai pusat evakuasi. Oleh karena itu bangunan sekolah di Jepang memiliki struktur yang kuat/ tahan gempa dan berada pada daerah yang tinggi/ jauh dari bibir pantai. Sekolah juga dilengkapi peralatan komunikasi radio dan cadangan makanan untuk bertahan selama beberapa hari.

Pusat penyimpanan makanan/ peralatan untuk kesiapan  bencana di Higashimatsushima (Foto 2013)

Pusat penyimpanan makanan/ peralatan untuk kesiapan bencana di Higashimatsushima (Foto 2013)

Prosedur lainnya adalah mengenai aturan bagi para murid sekolah, sebelum bencana pada 11 Maret 2011, pihak orang tua diperkenankan untuk menjemput muridnya disekolah pasca bencana. Namun pengalaman membuktikan bahwa hal ini tidak efektif, karena kebanyakan korban yang jatuh pasca gempa dan tsunami 2011 dikarenakan para murid dijemput oleh orang tuanya dan berada di luar lingkungan sekolah, baik korban dikarenakan gelombang tsunami maupun korban dikarenakan kepanikan di jalan raya. Sehingga pemerintah Jepang mengeluarkan regulasi baru bahwa setiap terjadi bencana pada jam sekolah maka setiap murid wajib berada disekolah sampai keadaan aman, dan orang tua murid dapat mendampingi mereka.

Ketiga peralatan yang memadai. Disetiap kawasan pemukiman penduduk memiliki pengeras suara yang dilengkapi dengan sirine. Setiap peringatan akan bahaya bencana atau pengumuman keadaan pasca bencana akan diumumkan melalui media ini. Selain itu juga terdapat warning/peringatan dari pemerintah melalui telepon seluler jika terjadi gempa/ bencana yang dianggap membahayakan. Dengan berbagai media ini lebih memudahkan masyarakat untuk mengetahui mengenai kondisi (kekuatan gempa dan resikonya) dan mempercepat proses evakuasi.

Salah satu sekolah SD di Higashimatsushima dengan struktur yang kuat dan besi pengaman yang menyilang, berfungsi sebagai escape building. (Foto 2013)

Salah satu sekolah SD di Higashimatsushima dengan struktur yang kuat dan besi pengaman yang menyilang, berfungsi sebagai escape building. (Foto 2013)

Keempat, melakukan kerjasama dengan kota lain. Secara geografis, posisi kota dapat dibagi dua yaitu kota yang berada di pegunungan dan kota yang berada di pesisir pantai. Dari faktor inilah, kota Higashimatsushima yang berada di garis pantai menjalin kerjasama dengan kota – kota yang berada di pegunungan. Sehingga kedua belah pihak dapat saling membantu, jika terjadi bencana di daerah pegunungan, seperti gunung meletus ataupun tanah longsor, kota Higashimatsushima dapat langsung menyalurkan bantuan dan menyiapkan fasilitas bagi para pengungsi jika dibutuhkan. Dan begitu juga sebaliknya jika terjadi bencana di daerah pesisir pantai.

Kelima, adalah melakukan kerjasama dengan pihak ketiga/ swasta. Pemerintah kota Higashimatsushima telah membentuk 80 grup sadar bencana yang tersebar di masyarakat. Disetiap grup ini terdapat gudang kecil tempat menyimpan cadangan makanan. Namun selain itu pemerintah kota juga memiliki sebuah pusat penyimpanan makanan dan peralatan yang berada di daerah yang jauh dari pantai. Fasilitas ini dimiliki oleh pemerintah namun dikelola olah perusahaan swasta SAGAWA Company yang merupakan perusahaan ekspedisi/pengiriman barang yang cukup terkenal di Jepang. Pemerintah kota Higashimatsushima menilai sangat penting untuk melakukan kerjasama ini, mengingat perusahaan swasta tersebut memiliki cukup banyak armada untuk mendistribusikan barang dan sudah berpengalaman menghadapi situasi darurat.

Banda Aceh dan Higashimatsushima pasca tsunami

Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara sebelum dan pasca bencana, baik di kota Banda Aceh maupun di Higashimatsushima. Namun ada beberapa hal yang sangat menarik untuk kita bahas.

Hal yang pertama adalah terkait respon pasca bencana tsunami. Dikota Banda Aceh sebagaimana kita ketahui, masyarakat sangat bergantung pada bantuan yang diberikan oleh pihak asing. Sekitar 500 organisasi/institusi dari berbagai Negara datang mengirimkan bantuannya untuk Aceh. Sementara dipihak lain di kota Higashimatsushima lebih bergantung pada bantuan lokal, 3 hari pertama pasca gempa, masyarakat mengkonsumsi makanan yang mereka simpan di emergency storage. Setelah hari ke-3 baru mereka mendapatkan supply bantuan dari pemerintah pusat.

Kemudian periode rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada periode ini, pemerintah pusat melalui presiden SBY membentuk organisasi/lembaga khusus untuk memudahkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Lembaga tersebut adalah BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) yang merupakan lembaga setingkat menteri, bahkan ada beberapa kalangan yang menilai bahwa lembaga ini sedikit lebih tinggi dari lembaga kementrian. Saat itu pemerintah Indonesia menilai bahwa pada situasi khusus (darurat) dibutuhkan suatu lembaga khusus dan aturan khusus untuk lembaga tersebut, guna mempercepat proses pembangunan pasca bencana. Sehingga dapat sama-sama kita lihat bahwa pembangunan berlangsung sangat cepat. Dan memang tujuan BRR ini adalah mengembalikan kehidupan rakyat kepada kondisi sebelum bencana secepat mungkin. Disisi lain, pemerintah Jepang sangat cepat bereaksi untuk membangun perumahan sementara, sekitar 5 bulan pasca bencana di Tohoku (utara jepang) semua penduduk sudah menempati perumahan sementara (temporary house), jalan-jalan sudah selesai diperbaiki kurang dari 1 bulan, proses pembersihan puing-puing bangunan juga sangat cepat. Untuk perencanaan pembangunan pasca bencana, pemerintah Jepang juga membentuk sebuah Badan Rekonstruksi yang dikenal dengan Fukkocho. Badan ini bertugas menyiapkan anggaran dan bersama-sama pemerintah kota dan propinsi menyiapkan pembangunan kota yang lebih baik dari sebelumnya.

Salah satu escape building di Kec. Meuraxa - BAnda Aceh (Foto 2014)

Salah satu escape building di Kec. Meuraxa – BAnda Aceh (Foto 2014)

Proses pembangunan kembali Jepang ini juga melibatkan partisipasi masyarakat. Hal ini tentunya sangat baik bagi konsep kota masa depan, dimana perencanaanya tidak hanya melibatkan Pemerintah semata, namun juga masyarakat yang terkena dampak gempa dan tsunami. Namun disisi lain, kondisi saat ini di Jepang masih jauh dari ideal. Setelah lebih dari 3 tahun pasca musibah tsunami, masyarakat masih tinggal di perumahan sementara, proses perencanaan kota yang baru ternyata membutuhkan proses yang cukup panjang. Salah satu faktor utama adalah: terlalu banyak stake holder (Badan rekonstruksi, Pemerintah propinsi, pemerintah kota, masyarakat dan perusahaan BUMN Jepang) yang mengambil bagian dalam setiap proses, mulai dari perencanaan sampai implementasi.

Dari sini dapat kita pahami bahwa proses yang telah dilakukan oleh masing-masing negara memiliki sisi kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan hal ini tentunya dapat dipadukan untuk mendapatkan sebuah konsep yang nyata dan dapat digunakan sebagai sebuah referensi baru yang terkait dengan manajemen kebencanaan.

Bencana memang sesuatu yang tidak kita harapkan, namun posisi negara kita yang kebetulan hampir sama dengan Jepang dengan tingkat resiko bencana yang cukup tinggi seharusnya membuat kita sadar akan langkah-langkah penurunan efeknya, tentunya hal ini tidak hanya tanggung jawab pemerintah semata, namun juga setiap individu di masyarakat memiliki perannya masing-masing. Hal yang sudah dilakukan di Jepang tidaklah begitu luar biasa, namun mereka melakukannya dengan keyakinan, keteguhan serta keseriusan. Dan Kitapun pastinya dapat melakukan seperti yang dilakukan di Jepang, tentunya dengan dukungan, partisipasi dan komitmen semua pihak.

 

 

 

About 3,00 BC a migration took place from the continent to the south. Destination: the western island of Indonesia. They settled down and had became the origins of Indonesian people. However, it is not impossible that the earliest migration took place long before 3,00 BC, say 300,000 years ago, when the archipelago was still part of the continent. The race migrated through the land was known as Pithecanthropus erectus.

During the Stone Age Period, a Malay race living in the continent migrated to the south. They Had been familiar with planting and cattle-farming methods. The first batch was known as Proto (Old) Malay and the second Detro (Young) Malay. When the Old Malay who refused to intergrate with new comers they were forced to live in hinterland and became the ancestors and the Bataks and Nias in North Sumatera, and Gayo and Alas in Aceh.

Pasar Aceh (Aceh Market), photo Feb 2009

Pasar Aceh (Aceh Market), photo Feb 2009

Based on artifacts found in North Aceh, we could deduce that a certain race had lived in Aceh, probably during the Mid Stone Age period, prior to the arrival of the Old Malay. No trace of nor descendants from this race to-day. It is most likely they have become extinct.

It has been assumed that the homelanmd of the ancestors of Acehnese, i.e. the Young Malay was in Indochina, particularly from the coastal areas of Cham and Khmer. The similarities of hundreds of words in Acehnese with those in Cham and Khmer languages have substantiated the assumption.

Ethnic Group in Aceh

There is quite a number of ethnic groups in Aceh:

Aceh, the largest, living from coastal areas to hinterland.

Gayo, in Central and Southeast Aceh.

Aneuk Jamee, in West Aceh, the southern part of South Aceh down to the coastal areas bordering with North Sumatera, and on the east coast of Banyak island.

Singkel: southeast of South Aceh.

Kluet: in the central area of South Aceh.

Alas: south of southeast Aceh.

Pulau: on Simeleu island.Tamiang: South of Aceh.

Gunung Fuji atau Fujisan adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba di timur, Fuji-Yoshida di utara dan Fujinomiya di barat daya. Gunung setinggi 3.776 mdpl ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji.
Gunung Fuji adalah simbol Jepang yang terkenal dan sering digambarkan dalam karya seni dan foto-foto, serta sering dikunjungi oleh pendaki gunung maupun wisatawan. Gunung ini diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu, sebuah gunung berapi yang kini masih aktif walaupun memiliki kemungkinan letusan yang rendah.

Gunung Fuji Dilihat dari 5th Station Yoshida Trail

Gunung Fuji Dilihat dari 5th Station Yoshida Trail

Saat ini, saya kebetulan berada di Jepang bersama beberapa orang teman yang memang sedang bertugas bekerja magang (jishusei) di sebuah perusahaan di negeri matahari terbit ini. Sebagai seorang pendaki gunung, tentu Gunung Fuji ini sangat menarik bagi saya untuk dikunjungi. Perjalanan untuk mendaki gunung ini sudah kami bicarakan jauh-jauh hari sebelumnya, mengingat Gunung Fuji hanya dibuka untuk pendakian selama musim panas saja, yaitu selama bulan Juni, Juli, dan Agustus. Dan tanggal 14 Agustus 2013 lah yang kami pilih karena hari itu bertepatan dengan libur musim panas atau obonk yang dimulai dari tanggal 12 – 16 Agustus 2013. Liburan musim panas merupakan bagian dari budaya Jepang, meskipun di kalender resmi pada minggu tersebut tidak ada hari libur atau bukan tanggal merah, namun banyak perusahaan di Jepang yang merayakan datangnya musim panas dengan meliburkan para karyawannya.

Menuju Tokyo
Cuaca pada malam itu sedikit sejuk tanpa titik-titik air dari langit Sendai, kota tempat saya tinggal. Tepat tengah malam pada tanggal 14 Agustus 2013, Bus Sakura yang kami tumpangi mulai meluncur meninggalkan Sendai Eki (Eki = terminal) menuju Shinjuku Station di Tokyo. Cuaca di Tokyo lebih hangat daripada Sendai dan kami pun segera menikmati keindahan kota Tokyo dengan mengunjungi beberapa lokasi seperti melihat patung liberty, robot gundam raksasa, dan mengunjungi Restoran Surabaya di Odaiba. Kemudian kami sempatkan pula menjelajahi pusat anime dan elektronik Jepang di Akihabara.
Dan ternyata ada banyak orang Indonesia di Akihabara ini, terutama tepat di depan AKB 48 Cafe yang kerap dipenuhi oleh para pekerja magang atau jishusei selama masa liburan. Ada beberapa teman jishusei yang yang saya lihat melakukan reuni dengan teman angkatan mereka. Selepas dari tempat ini, tim kami mulai terpecah. Saya bersama salah seorang teman, Udin, yang merasa sudah kelelahan dan butuh istirahat memutuskan untuk bermalam di rumah Nico -kenalan Udin- di daerah Saitama. Sedangkan tim yang lain melanjutkan jalan-jalannya ke Tokyo Tower, dan kami berjanji bertemu di titik start pendakian Gunung Fuji pada keesokan harinya.
Sebuah rumah khas jepang dengan pemanfaatan ruangan yang maksimal / no empty space ala Jepang merupakan tempat kediaman Nico. Pria yang berasal dari Jember ini sudah hampir tiga tahun tinggal di Jepang dan kami disambut dengan keramahan khas jawa timurannya.

 

Dari Tokyo ke Yoshida (Titik Start Pendakian)
Tanggal 15 Agustus 2013, kala matahari sudah mulai meninggi, kami meninggalkan kediaman Nico untuk menuju ke Shinjuku Station. Setelah meluncur selama lebih dari satu jam di atas densha atau kereta listrik, tibalah kami di stasiun tersibuk di Jepang ini. Sebagai catatan, Shinjuku Station digunakan untuk melayani lebih dari empat juta orang yang datang dan pergi setiap harinya.
Dari Stasiun Shinjuku ke titik start pendakian Gunung Fuji dapat ditempuh dengan menggunakan bus atau dengan kereta listrik. Kebetulan kami memilih untuk menggunakan kereta listrik. Setelah bertanya di pusat informasi dan mengerti jalur yang harus kami tempuh, saya dan Udin segera menuju jalur kereta dengan tujuan Takao. Perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam menuju Takao ini cukup menarik : dari pemandangan perkotaan Tokyo yang padat dan dipenuhi tiang listrik menuju daerah pegunungan yang hijau dan indah.
Sesampainya di Takao, kami pindah jalur menuju Otsuki. Setelah 30 menit berada di kereta, sampailah kami di Stasiun Otsuki. Stasiunnya sangat kecil. Pusat bisnis yang biasanya ramai di sekitar stasiun sama sekali tidak terlihat di sini. Dengan kata lain, kami sudah berada di remote area yang sudah cukup jauh dari peradaban kota.
Setelah beristirahat sejenak di Otsuki, kami melanjutkan perjalanan menuju Kawaguchi (Kawaguchiko). Kawaguchi adalah kota di kaki Gunung Fuji yang di sana terdapat Danau Kawaguchi. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kawaguchi ini untuk menikmati keindahan Danau Kawaguchi dengan latar belakang Gunung Fuji. Namun tidak selamanya kita dapat melihat Gunung Fuji dari danau ini karena sangat sering juga para wisatawan kecewa jika cuaca tidak mendukung dan Gunung Fuji tertutup kabut. Ini merupakan stasiun terakhir untuk pendakian Fuji, di stasiun ini terdapat berbagai fasilitas seperti loker penyimpanan barang, Restoran Fujiyama, warung internet, dan toko suvenir. Bisa dikatakan stasiun ini meruapakan stasiun yang sangat penting untuk pendakian ke Gunung Fuji.
Setelah melahap seporsi Tempura Udon di Restoran Fujiyama dan melaksanakan sholat jamak saya untuk dzuhur dan ashar, kami melanjutkan perjalanan menuju ke titik start pendakian, yaitu 5th Station Jalur Yoshida (Yoshida Trail). Yoshida Trail merupakan jalur pendakian yang berada di daerah Yamanashi. Selain dari Yoshida trail, biasanya banyak juga pendaki yang memulai pendakian di jalur 5th Station Jalur Subashiri (Subashiri Trail) dari daerah Sizuoka. Kawaguchi ke Yoshida kami tempuh dalam waktu 50 menit menggunakan bus yang banyak dipenuhi oleh wisatawan dari berbagai negara seperti Amerika dan Eropa, bahkan kami sempat satu bus bersama rombongan mahasiswi asal Malaysia yang juga turut serta.
Yoshida 5th Station ini cukup ramai. Di sini kita dapat menemukan beberapa restoran, toko souvenir, vending machine, dan juga toilet. Dari tempat ini kita dapat melihat keindahan Gunung Fuji dan lembah-lembah di sekitarnya. Biasanya para pendaki beristirahat sejenak di sini untuk sekedar aklimatisasi dan menunggu waktu yang tepat untuk pendakian. Dibutuhkan waktu sekitar 7 – 8 jam untuk mendaki dari titik ini menuju puncak Gunung Fuji. Dan biasanya para pendaki memulai mendaki pada pukul 8 malam agar tidak terlalu lama berada di puncak Fuji dan sampai tepat pada waktu sunrise.

 

Mulai Mendaki Gunung Fuji
Pada saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, dengan ditemani cahaya senter, kami pun mulai menyusuri jalanan tanah berpasir. Tampak beberapa cahaya di depan dan di belakang kami. Sesekali terdengar suara-suara percakapan dalam bahasa Jepang dan Inggris di antara para rombongan pendaki.

Jalur Pendakian Gunung Fuji di Yoshida Trail

Jalur Pendakian Gunung Fuji di Yoshida Trail

Pada awal-awal pendakian kondisi jalur cenderung datar, namun setelah melewati 6th Station, jalur sudah mulai menanjak dan tanahnya pun sudah mulai lebih berpasir khas gunung berapi. Setiap station atau pos pendakian dilengkapi dengan tempat bermalam, penjual makanan dan minuman, serta toilet. 6th Station ini dicapai sekitar 30 menit dari 5th Station.
Setelah melewati 6th Station ini, jalanan yang tadinya agak lebar menjadi lebih sempit. Jika kita melihat ke arah puncak akan tampak banyak sekali kerlap-kerlip lampu senter atau head lamp dari para pendaki dengan bentuk melingkar sesuai dengan jalur pendakian. Hal ini mengingatkan saya akan kampung halaman di Banda Aceh, di mana pada saat merayakan Hari Raya Idul Fitri biasanya para pelajar melakukan konvoi pada malam hari dengan membawa obor.
Mulai dari titik di 6th Station ini sampai selanjutnya pemandangan akan kurang lebih sama. Kesabaran para pendaki mulai diuji. Karena serasa begitu jauh dari titik kita berdiri untuk menuju puncak dan bahkan kerlap-kerlip yang kita perkirakan puncak ternyata bukanlah puncak sebenarnya, tapi sebenarnya itu adalah pos atau station selanjutnya.
Pada saat kami beristirahat sejenak di sebuah tikungan setelah 7th Station, kami bertemu dengan dua orang Jepang yang juga sedang beristirahat. Kebetulan Udin yang sudah tinggal sekitar 2,5 tahun di Jepang sudah sangat familiar dengan bahasa dan kebudayaan Jepang, maka terjadilah percakapan singkat dengan mereka. Begitu juga dengan salah satu diantaranya sangat fasih berbahasa Inggris, bercakap-cakap dengan saya. Kami melanjutkan perjalanan bersama mereka sampai 8th Station. Selanjutnya kami berpisah karena mereka memutuskan untuk beristirahat lebih lama dan kami memilih langsung melanjutkan pendakian.
Mulai dari 8th Station ini, jalur pendakian sudah sangat sempit dan terjal. Dengan jumlah pendaki yang cukup banyak, maka antrian pun tak dapat dihindari. Hal ini tentu saja sangat menguras energi dan kesabaran. Tidak sedikit para pendaki yang kelelahan dan harus beristirahat atau bermalam di 8th Station ini mengingat stamina yang sangat terkuras dan udara yang semakin tipis.

 

Tiba di Puncak Tertinggi Jepang
Sekitar jam 4 pagi tanggal 16 Agustus 2013 akhirnya kami tiba di puncak tertinggi Jepang, yaitu Puncak Fujisan atau Gunung Fuji. Berbeda dengan gunung lainnya di Jepang, Gunung Fuji yang pada Juni 2013 lalu resmi disahkan oleh UNESCO sebagai world heritage memiliki tempat yang spesial di hati orang Jepang. Jika gunung yang lainya seperti Gunung Zhao disebut dengan Zhao Yama (yama = gunung), maka Gunung Fuji disebut sebagai Fuji San. San yang berarti tuan ini biasanya digunakan di belakang nama seseorang, sama seperti Mr atau Mrs dalam bahasa Inggris. Hal ini tentu menunjukkan tingginya posisi Gunung Fuji di antara gunung-gunung yang lain di Jepang.

Di Puncak Gunung Fuji

Di Puncak Gunung Fuji

Suasana di puncak cukup ramai. Kondisi udaranya pun cukup dingin. Usai melaksanakan sholat subuh, kami menghangatkan diri dengan minuman hangat yang dijual di warung yang terdapat di puncak. Selain minuman hangat, di kawasan puncak ini juga tersedia mie udon dan shoba, makanan khas Jepang. Juga terdapat kantor resmi yang mengeluarkan sertifikat yang menyatakan bahwa kita sudah berhasil mencapai Puncak Fuji.
Pandangan dari puncak sempat tertutup kabut, sehingga kami tidak dapat melihat cahaya pertama matahari terbit. Baru setelah setengah jam kemudian kabut mulai hilang. Meskipun posisi matahari sudah agak tinggi, namun pemandangan yang terlihat masih sangat indah. Terlebih lagi kita dapat melihat danau yang besar tepat di bawah posisi matahari.
Kawasan Puncak Fujisan cukup luas, dan semakin lama terasa semakin banyak pendaki yang telah mencapai puncak. Setelah menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam di puncak ini, kami memutuskan untuk turun.

Kembali Turun
Kondisi jalur turun agak sedikit berbeda, kalau pada saat kita mendaki masih banyak bebatuan, pada jalur turun lebih berpasir dan juga jalurnya pun lebih lebar. Sehingga banyak para pemuda yang berlarian turun karena medannya sangat mendukung, namun umumnya para pendaki lebih memilih cara lebih santai.
Semakin lama cuaca semakin panas, karena bisa dikatakan tidak ada satu pohon pun yang tumbuh di sekitar jalur pendakian Fuji ini. Ditambah lagi dengan debu yang lumayan banyak, membuat perjalanan tetap tidak ringan. Kami pun berusaha sesegera mungkin untuk dapat menuruni Fujisan ini. Dibutuhkan waktu sekitar 3 – 4 jam dari puncak 10th Station ke 5th Station.
Di tengah perjalanan turun terdapat para petugas yang mengarahkan jalur turun kita. Terdapat dua jalur yaitu jalur Yoshida Trail atau Subashiri Trail. Karena kami berangkat dari Yoshida, maka kami diharuskan untuk memilih jalur Yoshida untuk turun.
Sekitar jam 10 pagi, kami tiba di Yoshida 5th Station. Dari 6th Station menuju 5th Station terdapat penyewaan kuda. Jadi bagi para pendaki yang ingin menikmati menunggang kuda dan menghemat tenaga, dapat menggunakan fasilitas ini.
Di 5th Station keadaannya cukup ramai. Selain dipenuhi oleh para pendaki yang baru turun dari puncak, juga dipenuhi oleh beberapa kelompok pendaki yang baru akan memulai pendakian. Kalau kami ingin melihat sunrise, maka para pendaki yang ingin berangkat ini adalah yang ingin melihat sunset. Namun umumnya para pendaki lebih memilih melakukan pendakian pada malam hari mengingat pada siang hari cuaca cukup panas dan dibutuhkan stamina yang benar-benar prima.

 

Perjalanan Turun

Perjalanan Turun

Setelah beristirahat sekitar 1 jam di Yoshida 5th Station, kami kembali meluncur ke Terminal Kawaguchi dan menyantap makan siang di Restoran Fujiyama. Tepat pukul satu siang kami sudah berada di dalam bus yang menuju ke Shinjuku di Tokyo.
Kami mungkin tak akan mendaki Gunung Fuji ini lagi. Ada pepatah Jepang yang mengatakan “A wise man climbs Fuji once, but only a fool does it twice”, atau dengan kata lain “Orang bijak mendaki Gunung Fuji satu kali, hanya orang bodoh yang melakukannya dua kali”. Tapi yang pasti, mendaki Fuji bagi saya merupakan suatu pengalaman yang luar biasa dan tak akan pernah terlupakan.

 

Mau beribadah ke Tanah Suci, tapi nunggu antrian naik hajinya masih panjang karena kuota yang dibatasi. Sambil menunggu kenapa tidak mencoba untuk Umroh terlebih dahulu, setidaknya bisa menggurangi rasa rindu untuk ke Tanah Suci.

Memang banyak jasa tour & travel menawarkan paket umroh. Tapi, Cheria travel yang memberikan layanan profesional dan fasilitas yang berkualitas sampai pelayanan catering dan lain-lain untuk para calon jama’ah.

“Travel Umroh Plus dari Cheria Travel” selama 12 hari. Selain untuk beribadah umroh selama 9 hari kita juga bisa berwisata selama 3 hari dengan destinasi yang bisa kita pilih sendiri yaitu:

  1. Travel Umroh Plus Turki

Menunaikan ibadah umroh disertai sambil berwisata ke kota Istanbul di Turki banyak diminati karena banyak situs sejarah peninggalan Islam yang tersisa di Turki.

  1. Travel Umroh Plus Dubai
  2. Travel Umroh Plus Aqso
  3. Travel Umroh Plus Eropa

Pendaftarannya bisa dilakukan secara online melalui email maupun secara langsung ke kantor dengan alamat PT. Cheria yang berlokasi di Gedung Twink Lt. 3 Jl. Kapten Tendean No. 82 Mampang – Jakarta Selatan, call (021) 7900 216 / 7900 218, Pin BB : 21A68679, email : info @cheria-travel.com, website : www.cheria-travel.com

Cheria travel juga berada di bawah payung hukum PT. CHERIA (SIUP:2365/2012 dan Depag RI ijin Umroh Depag RI No. D/816-2012. Ijin ibadah khusus depag RI No. D/355. Jadi semua kegiatan yang dilakukan oleh Cheria Travel bisa dipertanggung jawabkan secara hukum.

Jadwal Keberangkatan Cheria Travel sangat beragam, begitu fleksibel untuk disesuaikan dengan waktu luang yang kita miliki untuk menunaikan ibadah umroh.

Itinenarinya lengkap sehingga bisa memberi gambaran kegiatan apa saja yang akan dilakukan bagi calon ja’maahnya terutama Calon jamaah yang baru pertama kali melakukan ibadah umroh

Masalah biaya kita bisa langsung mensurvey harga terlebih dahulu. Dengan kurs rupiah yang disesuaikan dengan kurs saat pembayaran.

Pagi hari tanggal 31 Oktober 2013, tepat usai shlat subuh kami menuju ke pantai di daerah Miyato Island, kota Higashimatsushima.

Para nelayan di kota ini melakukan aktifitasnya secara bekelompok dan berada dibawah naungan asosiasi nelayan.

Pekerjaan ini dilakukan secara turun-temurun dan pemerintah membagi area tangkapan untuk masing-masing wilayah. Sehingga terdapat batasan yang jelas diantara Nelayan daerah Miyato ini dengan nelayan-nelayan di daerah tetangga.

Rata-rata setiap nelayan didaerah ini memiliki satu buah boat berkapasitas 2 ton seharga 6 juta yen dan dua buah jala. Harga satu unit jala sekitar 4 juta yen, dapat digunakan sampai 10 tahun. Namun akhir-akhir ini para nelayan sudah mulai mampu membuat jala mereka secara mandiri dengan teknik reverse engineering dan mampu menekan biaya menjadi 1,5 juta Yen per unitnya.

Untuk nelayan yang menangkap ikan lebih ke arah laut lepas, maka perijinannya tidak lagi berdasarkan wilayah, namu berdasarkan peralatan yang digunakan. Nelayan jenis ini umumnya melakukan aktifitas nya lebih lama/ lebih dari satu hari.

Peralatan lain yang sering digunakan adalah GPS (Global Positioning System), Sonar detektor untuk mendeteksi aktifitas bawah laut dan Radar untuk mengetahui pergerakan disekitar boat jika cuaca kurang baik/berkabut.

Nelayan di miyato ini menggunakan teknik fixed net, yaitu dengan menempatkan jala pada daerah tertentu selama satu sampai 2 minggu, bahkan ada yang sampai satu bulan. Hal ini tergantung dari cuaca dan kondisi air. Aktifitas biasanya dilakukan dari jam 4 – 6 pagi, kecuali pada musim salju aktifitas dimulai dari pukul 5 sampai 7 pagi.

Capture

Di daerah miyato para nelayan mampu menghasilkan 1,5 ton ikan dalam sekali tangkap. Jenis ikannyapun berbeda-beda tergantung musim dan cuaca, untuk bulan januari-februari biasanya mereka menangkap ikan hearing. Maret – Mei biasanya menangkap ikan Fugu, Seabus dan red snapper. Bulan juni – september menangkap ikan Seabus dan flat fish/ikan sebelah. Okober – November menangkap ikan jenis salmon dan bulan desember menangkap ikan flat fish.

Setelah ditangkap oleh para nelayan, ikan akan langsung didistribusikan ke pasar oleh pihak asosiasi. Kemudian para nelayan akan menerima penghasilan berdasarkan jumlah ikan yang mereka tangkap melalui asosiasi dan dikenakan biaya sebesar 5%. Pendapatan rata-rata para nelayan didaerah ini sekitar 200 – 300 ribu yen / bulan.

Ini merupakan pengalaman pertama bagi kami melakukan aktifitas menangkap ikan bersama para nelayan di Higashimatsushima. Nelayan disini tidak hanya berhadapan dengan cuaca yang dingin (terutama di musim salju), namun juga badai topan dan juga ancaman terburuk dari radiasi PLTN Fukushima. Hal yang sangat menarik bagi kami melihat semangat serta kerja keras para nelayan dalam mempertahankan pekerjaan dan kehidupan mereka.

Kebahagiaan anda tumbuh berkembang manakala anda membantu orang lain. Namun, bilamana anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan itu bagaikan sebuah tanaman; harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi”. (J. Donald Walters)

Pada tanggal 29 Oktober 2013, kami berkesempatan untuk mengunjungi salah satu proyek prestisius di kota Higashimatsushima, yaitu proyek pembangkit listrik tenaga matahari atau lebih dikenal dengan proyek mega solar.

Proyek Mega Solar ini merupakan bagian dari program Future City Initiative, dimana dengan program ini lebih meningkatkan kepedulian kota Higashimatsushima dalam menyikapi isu-isu terkait lingkungan

Proyek ini dibangun diatas lahan seluas 4,7 Hektar dan memiliki 14.616 PV Panel/ panel surya.

Mega Solar di daerah Nobiru, kota Higashimatsushima

Mega Solar di daerah Nobiru, kota Higashimatsushima

Perusahaan swasta Mitsui Busan menginvestasikan dana sebesar lebih dari 1 Milyar Yen dan menghasilkan tenaga listrik sebesar 210 juta KWh/ tahun, yang mampu melayani sekitar 600 rumah.

Proyek yang sudah mulai beroperasi sejak bulan oktober ini memiliki kontrak jangka panjang (20 th) dengan perusahaan listrik Tohoku Electrical Corp.

Melihat pembangkit listrik tenaga surya ini merupakan suatu pengalaman yang cukup menarik, dimana pemanfaatan energi surya dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap energi fosil.

“Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras, dan mau belajar dari kegagalan”. (Gen. Collin Powell)

Pada 23 Oktober 2013, kota Higashimatsushima menerima kunjungan dari 40 orang peserta pelatihan Future City Initiative. Para peserta berasal dari berbagai negara, seperti Indonesia (Staf dari Kementrian PU), Bangladesh, Bhutan, Brazil, Kamboja, Chili, Kolombia, Kostarika, Ekuador, Irak, Yordania, Kazakstan, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Peru, Filipina, Sri Lanka, Thailand, Uzbekistan dan Vietnam. Dan yang paling istimewa adalah hadirnya menteri Perumahan Kostarika Mr. Monge Fernandez Guido Alberto.

Setelah mendengar kata-kata sambutan dari walikota Higashimatsushima Mr. Abe, acara dilanjutkan dengan presentasi dari pegawai senior kota Higashimatsushima yang menjelaskan kondisi sebelum dan sesudah bencana serta kondisi kota saat ini. Setelah itu dilanjutkan dengan presentasi dari salah satu staf kota Higashimatsushima mengenai peralatan pendukung kelengkapan manajemen bencana. Presentasi dari kami merupakan materi terakhir dari sesi ini

Suasana sesi tanya-jawab

Suasana sesi tanya-jawab

Sesi berikutnya merupakan sesi tanya-jawab yang berlangsung sekitar 1 jam. Pertanyaan dari para peserta banyak yang terkait dengan kebijakan yang diambil pemerintah dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di kota Higashimatsushima.

Pada kegiatan kali ini kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga terkait pendapat berbagai pihak yang datang dari negara  serta background yang berbeda dalam menanggapi proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang terjadi di Jepang.

“Berbahagialah generasi muda, karena merekalah yang akan mewarisi hutang bangsa“. Herbert Hoover, Presiden AS ke -31.